Badut Oyen
Cerita 1
Nama: Ichsan
Kamil
Tak bisa dimungkiri bahwa bayangan dalam cermin itu menampakan
paras lelah yang tertahan. Foundation yang belum dioleskan secara merata
membuat wajahnya terkihat makin kusut.
Oyen membutuhkan krim itu lagi. Kali ini lebih banyak keduan
matanya menatap kosong ke dalam cermin. Namun pikirannya seperti terlempar ke
tempat lain sehingga make-up nya belum juga merata.
Kaus putih tipis Oyen basah
di beberapa bagian.kamarnya terasa sanagat sumpek dan panas.Pintu kayu berkeriut
membuka.”Mikirin apa sih ? Dari tadi dandannya enggak selesai selesai. Ini
kostumnya sudah aku setrika”,Ujar suparni sambil menggantung kostum badut oyehn
di paku di dinding yang sudah agak lapuk.Hampir semua bagian bawah dindingnya
tampak kusam karena bercask bercask kecoklatan.
Suparni juga meletakkan bantal kecil yang nantinya akan diselipkan
di perut Oyen agar terlihat buncit, juga wig merah dan hidung bola merah besar
di atas kasur Oyen.Namun Oyen tak menjawab.Ia hanya melempar senyum lewat
cermin di hadapannnya,menghela napas panjang, dasn mencoba lebih berkonsentrasi
dengan make-up-nya.
Suparni tidak keberatan dengan itu. Mungkin suasana hati Oyen
sedang buruk atau letih, Pikirnya.
Empat jam yang lalu Oyen mengisi acara ulang tahun seorang anak berusia lima tahun. Ia baru pulang ketika matahari tepat di atas ubun ubun. Dan sore ini ia harus kembali mengisi acara lain. Meski suparni tahu oyen sangat senang dengan pekerjaannya, Wajah lelah pria itu tak bisa menipu suparni yang telah sekian lama mengenalnya.
“Lebih
baik kampu pakai kostumnya sekarang. Setelah itu biar aku bantu Make
up-nya”,Kata suprani seraya merebut Make up-nya dari tangan Oyen.
Oyen pun berbalik dan mengambilnya Kostumnya. Ia mebuka resleting
belakang kostum badut nya yang berwarna merah m,enyala dengan motif polkadot,lalu perlaha ia kenakan kostumnya.
Suparni mendekati pria itu, membantunya menaikkan relesting belakang dengan terlaten.
“Maksih
ya,” Kata oyen, sedikit menoleh ke arah suparni,Membuat wanita itu tersipu.
Oyen berjal;an menuju cermin di samping kasurnya, kapuk telah memadat,membuat kasurnya terasa keras.
Oyen berjal;an menuju cermin di samping kasurnya, kapuk telah memadat,membuat kasurnya terasa keras.
Sejujurnya oyen memang kelelahan.Namun semangatnya untuk mengjibur anak anak tak pernah luntur.
Hal
13-14
Nama
: Dea Fitriani Prayogi
Oyen mengangkat kursi plastik ke dekat jendela kaca. Berharap angin
dari fentilasi udara
yang tak seberapa besar itu sedikit mengurangi hawa panas didalam kamarnya.
yang tak seberapa besar itu sedikit mengurangi hawa panas didalam kamarnya.
Matahari diluar begitu terik, membuat Oyen menilik kebagian atas lemarinya dan mencari lembaran kertas untuk ia jadikan kipas. Kostum badut itu membuat tubuhnya semakin gerah. Kipas angin kecil diatas lemari sudah rusak. Berkali-kali ia mencoba memperbaikinya sendiri, tapi kipas mungil itu malah makin rusak.
Oyen duduk menghadap cerminh dengan anteng, menunggu Suparni mendandaninya.
“Gimana acara tadi? Lancar?”
“Seperti biasa. Teman-temannya banyak. Sekitar 25 anak. Kamu tahu
betapa ramainya ruangan itu. Tapi aku senang tempat itu penuh gelak tawa
bahagia mereka.”
“Itu bagus. Setidaknya kali ini tidak ada anak-anak yang menahanmu
dan menangis histeris agar kamu tidak pergi.”
“Hahaha,
ya. Mereka sangat menyukaiku dan aku juga sangat menyukai mereka.”
Suparni menggeser tumpukan koran diatas
meja rias dan meletakkan lipstick merah, kotak eye shadow, serta gelas berisi
air disana. Sementar pensil dan kuas lipstick ia selipkan diatas diatas daun
telinganya.
Suparni
mulai dengan meratakan foundation yang tadi belum usai. Ia menambahkan hingga
leher dan dagu Oyen yang ditumbuhi janggut tipis.
“Setelah acar ini kamu haur mencukur jenggotmu.
Besok siang masih ada order.”
“Benar juga. Apa kucukur sekarang saja?” Oyen nyaris
berdiri sebelum akhirnya Suparni menahannya.
“Tak perlu, sudah terlanjur. Masih bisa
kututupi.”
Suparni
membutuhkan bedak putih diwajah Oyen. Dia hafal harus seperti apa make up wajah
pria itu ketika menjadi badut. Dengan kostum cerah mencolok dengan senyum lebar
sang badut, Oyen selalu berhasil membuat anak-anak tertawa. Suparni tahu betapa
gigih Oyen menghibur mereka meski upah yang didapat tidak sesuai dengan
kelelahannya.
Penghasilan yang didapat Oyen hanya cukup
untuk makan mereka berdua dan untuk merawat kostum serta toko perlengkapan
pestanya.
Oyen mengipas-ngipas kepala dan lehernya yang mulai
berkeringat. Ia tak mau make up yang telah susah payah dilukis Suparni menjadi
luntur. Sesekali ia mengipasi Suparni yang kelihatan gerah.
“Setelah pulang nanti, biar aku
sendiri yang jaga toko. Kamu istirahat saja”
“Aku
gak apa-apa kok. Kalau Cuma jaga toko kan nggak perlu banyak tenaga.”
“Sejak tadi wajahmu lesuh. Ini berbahaya.
Jangan sampai wajah badutmu kelihatan muram di depan anak-anak. Jadinya nggak
lucu, Yen,” tegur Suparni.
“Hahaha, betul juga. Baiklah.”
Oyen tertawa kecil dan tawa itu membuat Suparni berhenti sejenak.
Saling
mengenal selama hampir empat tahunsejak di bangku kuliah membuat mereka membuat
mereka begitu dekat. Hampir dua tahun Suparni bekerja pada Oyen. Ia membantu
pria itu menjaga toko perlengkapan pesta dan segala persiapanjika Oyen mendapat
order menjadi badut. Meski penghasilan yang di dapat tak seberapa, Suparni
tetap setia menemani pria itu.
Hal. 15-16
Nama : Lidna Amarilla Maharani
Oyen
tak sampai menyelesaikan kuliahnya. Ia drop out saat menginjak semester
tujuh karena ayahnya sakit-sakitan dan
tak ada uang untu membayar kuliah. Ia memilih berhenti kuliah dan membantu
merawat ayahnya. Sementara ibu Oyen meninggal dunia ketika ia menimba ilmu di
bangku SMA.
Suparni, meski telah memegang ijazah lulus,
nasibnya juga tidak lebih baik. Berkali-kali Suparni melamar kerjaan sebagai
guru SD, sesuai dengan bidangnya ketika kuliah, tapi selalu ditolak.
Katanya, zamansekarang orang berlomba-lomba
mengincar pekerjaan sebagai guru dan PNS sehingga perbandingan pendaftar dan
yang diterima menjadi tidak seimbang. Lowongan menjadi baby sitter pun telah
penuh. Suparni tidak memiliki pilihan lain.
“Bayaran
untuk acara yang kemarin lusa apa sudah dilunasi?”
“Belum.
Masih separuh. Katanya, sisanya mau dicicil mulai hari ini. Aku nggak enak hati
kalau harus menagih.”
“Tapi itu hakmu, Yen. Ya sudah, kita tunggu saja,” balas Suparni sembari
membubuhkan eye shadow berwarna jingga dikelopak mata Oyen.
“Tak apalah. Uang kitakan masih cukup untuk
makan beberapa hari. Lagipula, yang penting anak-anak sekarang. Keceriaan
mereka membuat rasa lelahku hilang.”
“Kamu jangan
terlalu baik dan terlalu memikirkan kesusahan orang lain. Kita sendiri juga
butuh uang.”
Oyen
mengangguk pelan. Ia mulai memejamkan mata dan terus mengipas-ngipas pelan
ketika kuas eyes shadow menyentuh kelopak matanya. Wajah riang anak-anak yang
telah ia hibur tiba-tiba berkelebatdan sedikit mencerahkan hatinya.
Bantal kecil yang menyembul dibagian perut
menambah kelucuan badut Oyen dimata anak-anak. Beberapa kali juga mereka
meminta Oyen berjongkok agar jemari mungil mereka bisa menyentil hidung merah
si badut.
Ia ingat saat pertama kali menjadi badut
dan menghibur diacara sunatan missal di kampung itu. Ia berusaha menghibur
anak-anak yang ketakutan sebelum disunat, sekaligus mencoba meredakan tangis
mereka yang telah disunat.
Oyen sangat
lega melihat anak-anak itu mengusap air mata dan tergelitik melihat
kelucuannya.
Polesan
lipstick di bibirnya seolah menarik senyum amat lebar bagi anak-anak sehingga
badut Oyen selalu tampak bahagia. Bagi Oyen, keriangan itulah upah sebenarnya,
meski tak dapat dimungkiri bahwa ia juga butuh uang.
Make up sang badut telah selesai. Wig gimbal berwarna merah telah
dipasang. Oyen kembali melihat kecermin, memastikan make upnya benar-benar
rapih. Ia memasang hidung bola merah besarnya dan membetulkan posisi wignya,
lalu berdiri dan mencoba beberapa ekspresi didepan cermin.
Hal 17-18
Nama : Rahmawati Dwi Safitri
“Aku
ingin lihat jadwal acaraku,” kata Oyen.
“Kemarin aku taruh diatas lemari.”
Habis berkata demikian, Suparni segera
mengemas alat make up ke dalam kotak dan meletakkannya dimeja kayu kecil
disamping kasur tipis Oyen.
Oyen
berbalik dan mencari-cari. Berlemba-lembar kertas berserakan diatas lemarinya.
Ponselnya yang sudah ketinggalan zaman nyaris terjun dari atas lemari ketika
Oyen mengangkat timbunan kertas dengan serampangan.
“Nah,
ini tadi kubuat kipas-kipas. Hahahaha.”
Ada enam acara dalam seminggu. Tiga diantaranya hanya acara ulang tahun
kecil-kecilan dan pasti dengan upah yang tak seberapa.
“Kamu akan terima semuanya?”
“Entahlah.
Menurutmu?” Oyen mengankat alis dan bahu.
“Kamu
kelihatan lesuh. Kalau memang sudah capek tak perlu kamu ambil semua tawaran.
Kamu butuh istirahat.”
“Aku tahu. Mungkin aku memerlukan bantuanmu untuk memilih empat saja,”
putusnya, lantas mengusap-usap kepala Suparni.
Oyen berusaha tersenyum. Ia tahu Suparni sangat
mengkhawatirkannya. Tetapi ia tak mau menyia-nyiakan peluang.
“Apakah semuanya hanya butuh badut atau
dengan perlengkapan pesta?” Oyen mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Sepertinya
hanya untuk besok dan lusa yang membutuhkan perlengkapan dari kita.”
“Itu bagus. Menambah penghasilan kita, ya
kan?” ucap Oyen sambil menyenggol bahu Suparni dan terkekeh, membuat Suparni
melempar senyum kecil.
“Ya… tepat sekali. Tapi stok balon, kertas lipat, dan
topi pesta tinggal sedikit.”
“Itu kabar menggembirakan sekaligus
mencemaskan. Sehabis acara besok mungkin kita bisa berbelanja,” timpal Oyen
berusaha mencairkan suasana.
“Dan lagi…kamu butuh foundation, serta
lipstick baru.”
“Ok, nanti sepulang acara aku akan mampir ketoko.”
“Atau bisa beli ditoko orang yang kemarin memakai
jasamu untuk mengisi acara ulang tahun anaknya. Bukankah upahmu belum dibayar
lunas? Siapa tahu dia ingat hutangya dan kamu dikasih gratis.”
“Jangan begitu. Kita lihat saja nanti, “
kata Oyen sedikit berteriak karena Suparni telah keluar dari kamarnya.
Oyen nyengir dan menggeleng ia tahu betapa
Suparni kadang jengkel dengan sikap baiknya yang sering kelewatan. Termasuk
kepada orang-orang yang tidak segera melunasi pembayaran.
Tapi
Oyeng tak menanggapi hal tersebut dengan serius. Ia sangat mengerti kondisi
warga dikampungnya. Masih beruntung banyak orang dikampung yang membutuhkan
jasa badut, pikir Oyen.
Ia mengeluarkan sepatu khusus badut dan
kotak perlengkapannya. Di sana ia menyimpan beberapa alat sulap sederhana
seperti tongkat lipat bunga dan saputangan.
Hal 19-20
Terima kasih
Tidak ada komentar:
Posting Komentar