Selasa, 01 November 2016

                Contoh hasil Mengidentasikan paragraph


Badut Oyen


Cerita 1

Nama: Ichsan Kamil

Tak bisa dimungkiri bahwa bayangan dalam cermin itu menampakan paras lelah yang tertahan. Foundation yang belum dioleskan secara merata membuat wajahnya terkihat makin kusut.

Oyen membutuhkan krim itu lagi. Kali ini lebih banyak keduan matanya menatap kosong ke dalam cermin. Namun pikirannya seperti terlempar ke tempat lain sehingga make-up nya belum juga merata.

  Kaus putih tipis Oyen basah di beberapa bagian.kamarnya terasa sanagat sumpek dan panas.Pintu kayu berkeriut membuka.”Mikirin apa sih ? Dari tadi dandannya enggak selesai selesai. Ini kostumnya sudah aku setrika”,Ujar suparni sambil menggantung kostum badut oyehn di paku di dinding yang sudah agak lapuk.Hampir semua bagian bawah dindingnya tampak kusam karena bercask bercask kecoklatan.

Suparni juga meletakkan bantal kecil yang nantinya akan diselipkan di perut Oyen agar terlihat buncit, juga wig merah dan hidung bola merah besar di atas kasur Oyen.Namun Oyen tak menjawab.Ia hanya melempar senyum lewat cermin di hadapannnya,menghela napas panjang, dasn mencoba lebih berkonsentrasi dengan make-up-nya.
Suparni tidak keberatan dengan itu. Mungkin suasana hati Oyen sedang buruk atau letih, Pikirnya.

Empat jam yang lalu Oyen mengisi acara ulang tahun seorang anak berusia lima tahun. Ia baru pulang ketika matahari tepat di atas ubun ubun. Dan sore ini ia harus kembali mengisi acara lain. Meski suparni tahu oyen sangat senang dengan pekerjaannya, Wajah lelah pria itu tak bisa menipu suparni yang telah sekian lama mengenalnya.

“Lebih baik kampu pakai kostumnya sekarang. Setelah itu biar aku bantu Make up-nya”,Kata suprani seraya merebut Make up-nya dari tangan Oyen.

Oyen pun berbalik dan mengambilnya Kostumnya. Ia mebuka resleting belakang kostum badut nya yang berwarna merah m,enyala dengan motif  polkadot,lalu perlaha ia kenakan kostumnya.

            Suparni mendekati pria itu, membantunya menaikkan relesting belakang dengan terlaten.
“Maksih ya,” Kata oyen, sedikit menoleh ke arah suparni,Membuat wanita itu tersipu.
Oyen berjal;an menuju cermin di samping kasurnya, kapuk telah memadat,membuat kasurnya terasa keras.

Sejujurnya oyen memang kelelahan.Namun semangatnya untuk mengjibur anak anak tak pernah luntur.
Hal 13-14

Nama :  Dea Fitriani Prayogi

            Oyen mengangkat kursi plastik ke dekat jendela kaca. Berharap angin dari fentilasi udara 
yang tak seberapa besar itu sedikit mengurangi hawa panas didalam kamarnya.

Matahari diluar begitu terik, membuat Oyen menilik kebagian atas lemarinya dan mencari lembaran kertas untuk ia jadikan kipas. Kostum badut itu membuat tubuhnya semakin gerah. Kipas angin kecil diatas lemari sudah rusak. Berkali-kali ia mencoba memperbaikinya sendiri, tapi kipas mungil itu malah makin rusak.

Oyen duduk menghadap cerminh dengan anteng, menunggu Suparni mendandaninya.
“Gimana acara tadi? Lancar?
“Seperti biasa. Teman-temannya banyak. Sekitar 25 anak. Kamu tahu betapa ramainya ruangan itu. Tapi aku senang tempat itu penuh gelak tawa bahagia mereka.”
“Itu bagus. Setidaknya kali ini tidak ada anak-anak yang menahanmu dan menangis histeris agar kamu tidak pergi.”
“Hahaha, ya. Mereka sangat menyukaiku dan aku juga sangat menyukai mereka.”
Suparni menggeser tumpukan koran diatas meja rias dan meletakkan lipstick merah, kotak eye shadow, serta gelas berisi air disana. Sementar pensil dan kuas lipstick ia selipkan diatas diatas daun telinganya.
            Suparni mulai dengan meratakan foundation yang tadi belum usai. Ia menambahkan hingga leher dan dagu Oyen yang ditumbuhi janggut tipis.
“Setelah acar ini kamu haur mencukur jenggotmu. Besok siang masih ada order.”
“Benar juga. Apa kucukur sekarang saja?” Oyen nyaris berdiri sebelum akhirnya Suparni menahannya.
“Tak perlu, sudah terlanjur. Masih bisa kututupi.”
            Suparni membutuhkan bedak putih diwajah Oyen. Dia hafal harus seperti apa make up wajah pria itu ketika menjadi badut. Dengan kostum cerah mencolok dengan senyum lebar sang badut, Oyen selalu berhasil membuat anak-anak tertawa. Suparni tahu betapa gigih Oyen menghibur mereka meski upah yang didapat tidak sesuai dengan kelelahannya.
Penghasilan yang didapat Oyen hanya cukup untuk makan mereka berdua dan untuk merawat kostum serta toko perlengkapan pestanya.
Oyen mengipas-ngipas kepala dan lehernya yang mulai berkeringat. Ia tak mau make up yang telah susah payah dilukis Suparni menjadi luntur. Sesekali ia mengipasi Suparni yang kelihatan gerah.
 “Setelah pulang nanti, biar aku sendiri yang jaga toko. Kamu istirahat saja”
            “Aku gak apa-apa kok. Kalau Cuma jaga toko kan nggak perlu banyak tenaga.”
“Sejak tadi wajahmu lesuh. Ini berbahaya. Jangan sampai wajah badutmu kelihatan muram di depan anak-anak. Jadinya nggak lucu, Yen,” tegur Suparni.
“Hahaha, betul juga. Baiklah.”
Oyen tertawa kecil dan tawa itu membuat Suparni berhenti sejenak.
            Saling mengenal selama hampir empat tahunsejak di bangku kuliah membuat mereka membuat mereka begitu dekat. Hampir dua tahun Suparni bekerja pada Oyen. Ia membantu pria itu menjaga toko perlengkapan pesta dan segala persiapanjika Oyen mendapat order menjadi badut. Meski penghasilan yang di dapat tak seberapa, Suparni tetap setia menemani pria itu.

Hal. 15-16

Nama : Lidna Amarilla Maharani

            Oyen tak sampai menyelesaikan kuliahnya. Ia drop out saat menginjak semester tujuh  karena ayahnya sakit-sakitan dan tak ada uang untu membayar kuliah. Ia memilih berhenti kuliah dan membantu merawat ayahnya. Sementara ibu Oyen meninggal dunia ketika ia menimba ilmu di bangku SMA.
Suparni, meski telah memegang ijazah lulus, nasibnya juga tidak lebih baik. Berkali-kali Suparni melamar kerjaan sebagai guru SD, sesuai dengan bidangnya ketika kuliah, tapi selalu ditolak.
Katanya, zamansekarang orang berlomba-lomba mengincar pekerjaan sebagai guru dan PNS sehingga perbandingan pendaftar dan yang diterima menjadi tidak seimbang. Lowongan menjadi baby sitter pun telah penuh. Suparni tidak memiliki pilihan lain.
“Bayaran untuk acara yang kemarin lusa apa sudah dilunasi?”
              “Belum. Masih separuh. Katanya, sisanya mau dicicil mulai hari ini. Aku nggak enak hati kalau harus menagih.”
“Tapi itu hakmu, Yen. Ya sudah, kita tunggu saja,” balas Suparni sembari membubuhkan eye shadow berwarna jingga dikelopak mata Oyen.
“Tak apalah. Uang kitakan masih cukup untuk makan beberapa hari. Lagipula, yang penting anak-anak sekarang. Keceriaan mereka membuat rasa lelahku hilang.”
“Kamu jangan terlalu baik dan terlalu memikirkan kesusahan orang lain. Kita sendiri juga butuh uang.”
              Oyen mengangguk pelan. Ia mulai memejamkan mata dan terus mengipas-ngipas pelan ketika kuas eyes shadow menyentuh kelopak matanya. Wajah riang anak-anak yang telah ia hibur tiba-tiba berkelebatdan sedikit mencerahkan hatinya.
  Bantal kecil yang menyembul dibagian perut menambah kelucuan badut Oyen dimata anak-anak. Beberapa kali juga mereka meminta Oyen berjongkok agar jemari mungil mereka bisa menyentil hidung merah si badut.
Ia ingat saat pertama kali menjadi badut dan menghibur diacara sunatan missal di kampung itu. Ia berusaha menghibur anak-anak yang ketakutan sebelum disunat, sekaligus mencoba meredakan tangis mereka yang telah disunat.
Oyen sangat lega melihat anak-anak itu mengusap air mata dan tergelitik melihat kelucuannya.
               Polesan lipstick di bibirnya seolah menarik senyum amat lebar bagi anak-anak sehingga badut Oyen selalu tampak bahagia. Bagi Oyen, keriangan itulah upah sebenarnya, meski tak dapat dimungkiri bahwa ia juga butuh uang.
Make up sang badut telah selesai. Wig gimbal berwarna merah telah dipasang. Oyen kembali melihat kecermin, memastikan make upnya benar-benar rapih. Ia memasang hidung bola merah besarnya dan membetulkan posisi wignya, lalu berdiri dan mencoba beberapa ekspresi didepan cermin.

Hal 17-18

Nama : Rahmawati Dwi Safitri

               “Aku ingin lihat jadwal acaraku,” kata Oyen.
“Kemarin aku taruh diatas lemari.”
Habis berkata demikian, Suparni segera mengemas alat make up ke dalam kotak dan meletakkannya dimeja kayu kecil disamping kasur tipis Oyen.
Oyen berbalik dan mencari-cari. Berlemba-lembar kertas berserakan diatas lemarinya. Ponselnya yang sudah ketinggalan zaman nyaris terjun dari atas lemari ketika Oyen mengangkat timbunan kertas dengan serampangan.
              “Nah, ini tadi kubuat kipas-kipas. Hahahaha.”
Ada enam acara dalam seminggu. Tiga diantaranya hanya acara ulang tahun kecil-kecilan dan pasti dengan upah yang tak seberapa.
“Kamu akan terima semuanya?”
“Entahlah. Menurutmu?” Oyen mengankat alis dan bahu.
               “Kamu kelihatan lesuh. Kalau memang sudah capek tak perlu kamu ambil semua tawaran. Kamu butuh istirahat.”
“Aku tahu. Mungkin aku memerlukan bantuanmu untuk memilih empat saja,” putusnya, lantas mengusap-usap kepala Suparni.
Oyen berusaha tersenyum. Ia tahu Suparni sangat mengkhawatirkannya. Tetapi ia tak mau menyia-nyiakan peluang.
“Apakah semuanya hanya butuh badut atau dengan perlengkapan pesta?” Oyen mencoba mengalihkan pembicaraan.
              “Sepertinya hanya untuk besok dan lusa yang membutuhkan perlengkapan dari kita.”
“Itu bagus. Menambah penghasilan kita, ya kan?” ucap Oyen sambil menyenggol bahu Suparni dan terkekeh, membuat Suparni melempar senyum kecil.
“Ya… tepat sekali. Tapi stok balon, kertas lipat, dan topi pesta tinggal sedikit.”
“Itu kabar menggembirakan sekaligus mencemaskan. Sehabis acara besok mungkin kita bisa berbelanja,” timpal Oyen berusaha mencairkan suasana.
“Dan lagi…kamu butuh foundation, serta lipstick baru.”
“Ok, nanti sepulang acara aku akan mampir ketoko.”
“Atau bisa beli ditoko orang yang kemarin memakai jasamu untuk mengisi acara ulang tahun anaknya. Bukankah upahmu belum dibayar lunas? Siapa tahu dia ingat hutangya dan kamu dikasih gratis.”
“Jangan begitu. Kita lihat saja nanti, “ kata Oyen sedikit berteriak karena Suparni telah keluar dari kamarnya.
Oyen nyengir dan menggeleng ia tahu betapa Suparni kadang jengkel dengan sikap baiknya yang sering kelewatan. Termasuk kepada orang-orang yang tidak segera melunasi pembayaran.
            Tapi Oyeng tak menanggapi hal tersebut dengan serius. Ia sangat mengerti kondisi warga dikampungnya. Masih beruntung banyak orang dikampung yang membutuhkan jasa badut, pikir Oyen.
Ia mengeluarkan sepatu khusus badut dan kotak perlengkapannya. Di sana ia menyimpan beberapa alat sulap sederhana seperti tongkat lipat bunga dan saputangan.

Hal 19-20




Terima kasih



               


Tidak ada komentar:

Posting Komentar